Sektor perladangan di berbagai daerah kini menghadapi tantangan serius seiring dengan merosotnya atensi kaum muda untuk terjun sebagai tenaga pertanian. Fenomena ini mengakibatkan kesulitan dalam mencari pekerja, terutama saat musim panen tiba. Bahkan, di beberapa wilayah, para petani harus melakukan inden atau pemesanan tenaga pertanian hingga 15 hari sebelumnya untuk memastikan kelancaran proses panen.
Kondisi ini menjadi perhatian utama bagi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sinar Harapan di Desa Makmur Jaya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ketua Gapoktan, Bapak Herman Wijaya, dalam sebuah wawancara pada hari Rabu, 23 April 2025, mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, semakin sedikit pemuda desa yang tertarik untuk bekerja di ladang. “Dulu, saat panen, kami tidak kesulitan mencari pekerja. Sekarang, kami harus jauh-jauh mencari tenaga pertanian, bahkan harus memesan jauh hari,” keluhnya.
Salah satu faktor utama penyebab menurunnya minat kaum muda terhadap sektor perladangan adalah anggapan bahwa pekerjaan di ladang itu berat, kotor, dan kurang menjanjikan secara ekonomi dibandingkan dengan pekerjaan di sektor industri atau jasa di perkotaan. Selain itu, kurangnya inovasi dan modernisasi dalam praktik pertanian juga membuat sektor ini kurang menarik bagi generasi muda yang lebih terpapar dengan teknologi.
Menurut data dari Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi yang dirilis pada tanggal 10 Mei 2025, rata-rata usia petani di wilayah tersebut kini berada di atas 45 tahun. Persentase petani berusia di bawah 30 tahun hanya sekitar 10%, menunjukkan adanya kesenjangan regenerasi yang signifikan. Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan produktivitas sektor pertanian akan menurun dan ketahanan pangan daerah dapat terancam.
Pemerintah daerah dan berbagai organisasi pertanian kini tengah berupaya mencari solusi untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga pertanian ini. Beberapa inisiatif yang sedang digalakkan antara lain adalah program pelatihan pertanian modern bagi generasi muda, pemberian insentif bagi petani muda, serta upaya untuk meningkatkan citra sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi dan promosi yang lebih menarik. Diharapkan, dengan berbagai upaya ini, minat kaum muda terhadap sektor perladangan dapat kembali meningkat dan masalah kekurangan tenaga kerja dapat teratasi.
Informasi tambahan: Berdasarkan laporan dari Badan Penyuluh Pertanian Nasional (BP3N) pada tanggal 15 Mei 2025, tren penurunan minat pemuda di sektor pertanian juga terjadi di berbagai daerah lain di Indonesia, dan menjadi salah satu isu strategis yang perlu segera ditangani.
