Mengapa Pemuda Jember Kini Malu Jadi Petani Kopi Dan Pilih Jadi Influencer

Kabupaten Jember telah lama menyandang status sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di Jawa Timur, dengan hamparan perkebunan yang membentang luas di lereng pegunungan. Namun, sebuah fenomena sosial yang cukup memprihatinkan mulai muncul di permukaan, di mana terjadi pergeseran cita-cita di kalangan generasi muda pedesaan. Banyak Pemuda Jember yang kini cenderung enggan melanjutkan tongkat estafet sebagai petani kopi di lahan milik keluarga mereka.

Salah satu alasan mendasar mengapa Pemuda Jember merasa malu untuk bertani adalah stigma sosial yang masih melekat kuat pada profesi tersebut. Bekerja di kebun kopi sering kali diasosiasikan dengan kerja fisik yang berat, kotor, dan panas, dengan risiko ketidakpastian harga saat panen raya tiba. Sebaliknya, kehidupan sebagai influencer menawarkan citra yang glamor, bersih, dan modern, yang sangat memikat bagi mereka yang ingin mendapatkan pengakuan instan dari teman sebaya.

Selain masalah citra, faktor ekonomi yang dianggap tidak stabil juga membuat para Pemuda Jember menjauh dari sektor perkebunan. Mereka melihat orang tua mereka berjuang melawan fluktuasi harga komoditas kopi dunia dan serangan hama yang sulit diprediksi, sementara penghasilan sebagai konten kreator tampak lebih fleksibel dan menjanjikan kebebasan waktu. Padahal, jika dilihat lebih dalam, sektor kopi di Jember memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi industri hulu ke hilir, mulai dari pengelolaan kedai kopi hingga ekspor biji kopi berkualitas tinggi. Namun, kurangnya literasi mengenai kewirausahaan pertanian membuat profesi petani tetap dipandang sebelah mata.

Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan sektor agrikultur di wilayah Jember. Tanpa adanya regenerasi dari kaum muda, produktivitas kebun kopi terancam menurun karena dikelola oleh generasi tua yang memiliki keterbatasan fisik dan pemahaman teknologi. Perlu adanya campur tangan dari pemerintah dan instansi terkait untuk mengubah persepsi Pemuda Jember agar kembali melirik potensi pertanian. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dengan memperkenalkan konsep pertanian cerdas (smart farming) dan branding kopi yang modern, sehingga bertani tidak lagi dianggap kuno melainkan sebuah profesi yang berkelas dan membanggakan.