Mengatasi Krisis Regenerasi Petani: Ahli Gadjah Mada Mengusulkan Materi Pertanian di Kurikulum Kebangsaan

Krisis regenerasi petani menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan nasional. Menyikapi fenomena ini, seorang ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengusulkan solusi strategis: memasukkan materi pertanian ke dalam kurikulum kebangsaan. Inisiatif ini diharapkan mampu menumbuhkan minat dan pemahaman generasi muda terhadap sektor pertanian sejak dini, sekaligus menyiapkan mereka untuk menjadi pelaku pertanian modern di masa depan.

Adalah Bayu Dwi Apri Nugroho, pengamat dari UGM, yang vokal menyuarakan gagasan ini. Ia mengidentifikasi bahwa salah satu penyebab utama minimnya regenerasi petani adalah kurangnya paparan dan apresiasi terhadap profesi petani di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, ia merekomendasikan agar materi-materi terkait pertanian tidak hanya terbatas pada pendidikan tinggi, tetapi sudah diperkenalkan sejak jenjang sekolah dasar, menengah pertama, hingga menengah atas. Dengan begitu, siswa dapat melihat bahwa pertanian adalah bidang yang dinamis, berteknologi, dan memiliki prospek cerah, bukan sekadar pekerjaan tradisional.

Pentingnya edukasi dini dalam mengatasi krisis regenerasi petani ditekankan oleh Bayu. Menurutnya, pemahaman akan pentingnya pertanian, proses produksi pangan, serta inovasi di bidang agrikultur harus ditanamkan sejak dini. Selain itu, ia juga mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk mendukung usulan ini dengan membangun fasilitas pembelajaran yang relevan, seperti agrowisata dan agroedutechnopark. Fasilitas ini akan menjadi sarana praktis bagi siswa untuk belajar langsung, bereksperimen, dan melihat potensi nyata dari sektor pertanian. Misalnya, pada kunjungan kerja Kementerian Pertanian ke beberapa daerah sentra pangan pada 10 April 2025, Menteri Pertanian Bapak Syahrul Yasin Limpo sempat menyoroti urgensi program yang mampu menarik minat generasi muda.

Gagasan Bayu Dwi Apri Nugroho ini disampaikan dalam sebuah seminar nasional di lingkungan UGM pada 11 Januari 2024. Ia optimis bahwa dengan adanya materi pertanian dalam kurikulum kebangsaan, Indonesia tidak hanya dapat mengatasi masalah regenerasi petani tetapi juga berpotensi untuk kembali menjadi salah satu eksportir pangan utama dunia. Langkah ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) dan Kementerian Pertanian, untuk merumuskan kurikulum yang relevan dan memastikan dukungan infrastruktur yang memadai. Dengan demikian, cita-cita mewujudkan petani muda yang inovatif dan produktif dapat terwujud, demi masa depan pangan bangsa yang lebih baik.